Penghancuran Jutaan Dosis Vaksin COVID-19 di Nigeria

Penghancuran Jutaan Dosis Vaksin COVID-19 di Nigeria – Pandemi COVID-19 masih belum usai. Vaksin sudah ditemukan tapi kasus COVID-19 masih tetap terjadi. Virus pun terus mengalami perubahan sehingga sekarang hadir banyak varian COVID-19. Varian terbaru yang ada dinamakan dengan Omicron dan ini sudah mulai menimbulkan gelombang pandemi baru di beberapa negara. Karena itu, vaksinasi pun kembali digalakkan untuk meningkatkan daya tahan tubuh terhadap serangan virus dan juga mencegah dampak serius dari COVID-19 ini. Banyak negara masih mengupayakan vaksinasi namun kendala bisa terjadi dalam proses vaksinasi yang ada. Itu pula yang terjadi di Nigeria. Negara yang ada di Benua Afrika ini harus menelan pil pahit ketika negara tersebut akhirnya harus menghancurkan lebih dari satu juta dosis vaksin. Ini bukan karena vaksin palsu, tapi karena masalah kadaluarsa di vaksin yang dimiliki.

Dailyindependentnig – Vaksin memang tidak bisa bertahan sangat lama. Ada masa penggunaan vaksin yang perlu diperhatikan. Ketika sudah memasuki masa kadaluarsa, vaksin sudah tidak bisa digunakan lagi karena ketika itu dipaksakan untuk digunakan, ada risiko kesehatan yang tentu bisa membahayakan orang yang mendapatkan injeksi vaksin tersebut. Karena itulah, Nigeria pun harus dengan berat hati menghancurkan jutaan dosis vaksin AstraZeneca yang sudah didapatkan. Rabu 22 Desember 2021 menjadi hari di mana truk-truk mengangkut ribuan boks vaksin ke tempat pembuangan di ibu kota Abju. Boks itu berisi vaksin yang dihancurkan. Ada deretan bulldozer yang dikerahkan untuk menghancurkan jutaan vaksin itu untuk nantinya akan dilanjutkan dengan menguburkannya di tanah.

Penghancuran Jutaan Dosis Vaksin COVID-19 di Nigeria

Vaksin yang dihancurkan tersebut masih belum sempat terpakai dan belum bisa juga didistribusikan. Vaksin itu adalah sumbangan atau pemberian dari beberapa negara di Eropa. Berdasarkan informasi yang dikutip dari Reuters, vaksin itu berasal dari negara Eropa melalui skema berbagi vaksin bernama COVAX. Skema ini digalang dan digalakkan oleh GAVI sekali aliansi yang mengelola penyediaan vaksin dengan bekerja sama dengan PBB melalui Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO). Vaksin yang dihancurkan tersebut sudah kadaluarsa sejak bulan lalu. Vaksin ketika diterima oleh pemerintah Nigeria pun hanya tinggal menyisakan waktu sekitar empat hingga enam pekan saja sebelum mencapai batas waktu kadaluarsanya. Karena itu, walau sudah diupayakan untuk distribusi, tidak semua vaksin bisa didistribusikan dan akhirnya tidak bisa digunakan.

Vaksin ini memang bantuan dari negara lainnya. Skema berbagi vaksin ini dijalankan karena Nigeria sempat mengalami kesulitan dalam mendapatkan dosis vaksin untuk warga negaranya. Karena itu, vaksin didatangkan dari negara lain. Dari Inggris, Nigeria menerima 700 juta dosis vaksin pada bulan Agustus lalu. Kemudian, Kanada memberikan 800 juta dosis vaksin pada bulan September, dan Prancis memberikan 500 juta dosis vaksin di bulan Oktober. Vaksin dari tiga negara ini adalah vaksin jenis AstraZeneca. Di rentang waktu tersebut, Amerika Serikat juga memberikan vaksin. Ada empat juta dosis vaksin Moderna dan juga 3,6 juta dosis vaksin Pfizer yang diberikan.

Dalam kondisi normal, sebenarnya vaksin AstraZeneca mampu bertahan dalam durasi sekitar enam bulan. Namun, kendala yang membuat vaksin itu diterima dalam keadaan hampir kadaluarsa adalah kendala di bagian distribusinya. Proses pengangkutan, pengecekan, dan juga pengiriman ke wilayah di Nigeria membuat waktu yang ada terbuang di mana vaksin pun hanya menyisakan beberapa pekan saja. Osagie Ehanire selaku Menteri Kesehatan Nigeria mengatakan bahwa vaksin datang secara beruntun ke Nigeria sehingga ini cukup menyulitkan dalam proses pendataan dan distribusi vaksin yang diterima. Karena itu, pemerintah pun dengan berat hati harus menghancurkan jutaan dosis vaksin yang ada.